Friday, August 8, 2014

Tafakur Travellers



"alangkah sulitnya mencari sahabat sejati,” kata seorang teman
“tak temukan walau telah kujelajahi bumi,negeri demi negeri”

Aku tersenyum menepuk pundaknya,
“mungkin itu sebab yang kau cari adalah sahabat untuk memberi
Adapun sahabat untuk diberi bertebaran diseluruh penjuru bumi”

Dalam Dekapan Ukhuwah,
Kita mengambil cinta dari langit
Lalu menebarkannya di bumi,
sungguh di syurga menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta
mari membangunnya di sini,
Dalam Dekapan Ukhuwah
(Salim A.Fillah)

Malam berlalu,tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu kepada mereka
Yang wajahnya mengingatkanku akan syurga
Wahai fajar terbitlah segera,agar sempat kukatakan pada mereka
“aku mencintai kalian karena Allah”
(Umar bin Khathab ra.)

Thursday, June 26, 2014

Pare, Miniatur Kehidupan

Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Begitulah hidup. Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Kita datang hanya sendiri dan kita pun pergi juga hanya sendiri.
Setiap orang punya hidupnya masing-masing. Punya perjalanannya masing-masing.
Kemudian Tuhan mempertemukan kita dengan orang lain yg masing-masing mempunyai peran. Sebagai ibu, ayah, anak, sahabat, teman masa kecil, pasangan hidup (suami/istri), dll..
Seberapa besar cinta kita pada mereka toh kita pun akan berpisah juga. Ga ada yg mampu menolak. Kita hanya bisa pasrah. Ya karena hidup ini sudah ada yg mengatur, Allah.
Sampai nanti tiba suatu masa, kita akan dipertemukan kembali dengan mereka. Ditempat yg lebih baik dengan keadaan yg lebih baik pula, insya Allah.
Pare, Kampung Inggris. Sebuah miniatur kehidupan. Ada yg datang dan ada yg pergi.
Dalam perjalanan dari Kediri menuju Bogor,
26 Juni 2014

Wednesday, June 18, 2014

When Your Life Gets Hard

Problem is like a coin. when you put it in front of your eyes and you only focus to see it, you feel that coin is really BIG! But if you put it far from your eyes, you will see that coin just a small thing. And Amazing, you can see there are so many people and beautiful things around you...

Everyone has a problem. We can't avoid it when the problem comes to us. Because this life has a good and bad side. Sometimes life feel so hard. The problem comes to you one by one. You fall down again and again. So what would you do if your life in this position?


Sunday, April 20, 2014

Dia yang Membuatku Iri

Dua hari yang lalu saya dapet link artikel dari grup whatsapp MA Superb Mother. Awalnya saya kurang tertarik untuk membacanya. Tapi karena judulnya yang aneh dan membuat penasaran, akhirnya saya buka dan baca.

Ternyata artikel yang di-share isinya sangat sangat bagus! Tulisan itu berisi tentang kekaguman seorang suami pada istrinya. Tentang rasa syukur karena memiliki istri yang shalihah dan juga rasa kangen karena istrinya sudah meninggal.

Sosok yang diceritakan itulah yang membuat saya iri.

Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu…

17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. 
“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”.
Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.
Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasika­n diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.