Friday, August 28, 2015

Oh, Ternyata Begini Kehidupan Kost Akhwat

 
“Jangan kamu merasa bahwa kamu telah mengenal temanmu dengan baik,
jika kamu belum pernah berpergian (safar), menginap, atau melakukan perniagaan
(transaksi utang-piutang) bersama temanmu itu.”
–Umar bin Khathab–


Saya setuju dengan perkataan Khalifah Umar di atas. Berdasarkan pengalaman, memang sifat asli seseorang akan tampak saat kita melakukan perjalanan bersama ke suatu tempat yang jauh (naik gunung misalnya). Atau menginap bersama dalam jangka waktu tertentu (minimal tiga hari). Ataupun melakukan kegiatan semacam bisnis atau menjadi partner kerja bersama.

Pada tiga kondisi itu, kalau boleh jujur, saya yang aslinya orangnya kalem –hehehe– merasa sulit untuk memakai ‘topeng’ (menyembunyikan sifat asli) ke makhluk sekitar. Terlebih bagi mereka yang memang sudah punya bakat terbuka ke orang lain.

Beberapa bulan ini (tepatnya di awal tahun 2015) Allah menghadirkan sosok baru di kehidupanku. Kenalan baru. Teman baru. Dan saat ini aku sudah menganggap mereka sebagai saudara. Saudara yang sangat baik. :’) Alhamdulillah…
Kedua temanku itu bernama Hikma dan Ratih.
Hingga tulisan ini dipublish, kami masih tinggal di rumah yang sama. Di perumahan Gema Insani Depok. Kami bisa tinggal di sini karena kantor kami memberikan fasilitas tempat tinggal. Tempat tinggal yang walaupun sederhana tapi menghadirkan kenyamanan. Bukankah tidur nyenyak itu mahal dan tidak bisa dibeli? Kalau aku sih ngerasa begitu, bisa tidur nyenyak (kecuali kalo terpaksa mesti begadang heheuuu *nasip desainer*). Dan sepertinya kedua temanku juga merasakan hal yang sama. Apalagi teman sekamarku. Kelihatan banget dari nyenyak tidurnya setiap malam. Hahaha ;P

Kehidupan kost akhwat. Ada gak ya yang kira-kira penasaran sama kehidupan akhwat-akhwat kayak gimana? Berdasarkan hasil nginep selama beberapa bulan ini.. Kehidupan akhwat itu :
1. Nyuci baju (biasanya 2 hari sekali. -> Akhwat rajin, atau paling lama 1 mingguan. -> akhwat masih masuk kategori rajin.)
2. Nyetrika baju (biasanya sambil nonton film -> biar ga kerasa tau2 udah selesai.).
3. Baca Quran (abis subuh atau abis maghrib)
4. Baca Buku (biasanya buku-buku cinta, novel, romance, spiritual/motivasi),
5. Autis berjamaah (main hape sendiri-sendiri, ketawa sendiri-sendiri. This is awkward moment kalo hape lagi rusak T___T)
6. Ngobrol bareng (dengan pembahasan yang ngga habis2, random, dan sering ngga nyambungnya.)
7. Belanja dan Masak (biasanya kalo ada yang tiba-tiba jadi rajin masak, patut dicurigai bentar lagi dia bakal nikah *WOW* o.O)
8. dan lain-lain… (Kalian bakal tau sendiri deh kalo tinggal bareng mereka.)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ada satu momen yang menurut temanku lucu. Tapi menurutku nggak begitu hehe. *flat mode*

Kejadiannya pas bulan puasa.
Hari minggu, setelah dari pengajian, biasanya aku langsung pulang ke kostan (selanjutnya baca mess). Sampai di mess ternyata kosong nggak ada siapa-siapa. Hikma lagi buka bersama sekaligus numpang nginep di kostan temennya di margonda. Ratih pulang ke rumah ortunya di cibinong. Sudahlah hari itu aku tinggal sendirian di mess. Paginya, hari senin aku bangun kesiangan (sekitar jam 7). Aku yang lagi halangan buru-burulah bersih2. Ngeliat ke dapur ada telur mentah 2. Tanpa babibu, langsung aku goreng semuanya untuk bekal sarapan dan makan siang. Karena nyaris telat, telur yang udah aku goreng itu terpaksa aku tinggal di dapur. Heuheuu karena ngga keburu buat naro di tempat makan. *nahan lapar deh sepanjang hari kayak orang puasa* (Oiya just for info, orang yang lagi ngga puasa itu ternyata lebih ngerasa lapar loh dibanding mereka yang puasa. Kenapa coba? Kalo kata Ratih karena niat yang membedakan. *ciyeeee*)

Hari itu berjalan seperti biasa. Sampai tiba-tiba bel kantor berbunyi. *teng tong teng tong lagunya opick*. Ratih sama hikma udah siap-siap pulang (mereka emang tenggo anaknya. Teng langsung Go :p). Ya sudah mereka pulang duluanlah ke mess. Aku lupa bilang kalau selama aku ngga puasa aku mau nginep di mess. Sudahlah aku pulang sendiri *lagi* ke mess. Sampai di mess aku ternyata sendiri *lagi*. Hikma dan Ratih sudah pergi cari ta’jil dan makanan buka puasa.

Aku yang sudah lapar dari tadi langsung ke dapur. Alhamdulillah telurnya masih utuh ~fyuuuh *untung mereka puasa*. Langsunglah aku makan pakai telur dikecapin. Lagi asyik-asyik makan. Tiba-tiba Hikma teriak-teriak. Kaget ada sosok hitam lagi makan di kamar. *lebay banget ya si Hikma o.O*. Ternyata kelebayannya ngga sampai di situ aja. Mereka kira dua telur itu digoreng khusus buat mereka. Mungkin gini kali ya percakapan mereka sepanjang jalan mencari ta’jil.

Hikma : Tih itu ada telur. Siapa ya yang goreng? Baik banget.
Ratih   : Iya Jihan kali ya yang goreng. Tapi apa iya ya?
Hikma : Iya kali. Tapi itu jumlahnya pas banget ada 2. Jangan-jangan malaikat yang goreng telur buat kita?
Ratih   : *ciyeeee* (just for info, Ratih itu kalo ngomong pasti pake ciyeee *walau sebenernya kurang match sama konten yang lagi diomongin. haha*)

Sampai akhirnya kejadian sebenarnya terungkap. Itu tuh sebenernya aku yang goreng. Kronologinya baca aja di atas. Huuuuu…

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Begitulah salah satu momen yang menurutku mungkin akan terus teringat sampai aku tua. Sama seperti kita mengingat momen lucu saat SD. Simple tapi indah. Lucu dan menyenangkan.

Terima kasih ya kalian. Terima kasih. Aku belajar banyak dari kalian. Belajar tentang arti ketulusan. Keep in touch yaa… Eventhough just by du'a.

Thanks for knowing you all :’). Hope we'll meet and live together again in Jannah. Aamiin.